Lampungupdate.com–Holding PTPN Group menyiapkan lahan seluas 10 ribu hektare di Provinsi Lampung untuk mendukung penguatan ekosistem agroindustri singkong secara nasional. Komitmen strategis ini dipaparkan oleh Regional Head PTPN I Regional 7 Iyan Heryanto pada Seminar Nasional Cassava di Ruang Sidang Utama Rektorat Universitas Lampung (Unila), Selasa (8/9/2026).
Kegiatan yang diusung oleh LPPM Unila dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-61 Unila ini mengusung tema “Menuju Lampung sebagai Pusat Cassava Nasional”. Dalam kesempatan tersebut, Iyan Heryanto menjelaskan bahwa penunjukan Lampung sebagai lokasi fokus pengembangan awal dilandasi posisi strategisnya sebagai pemasok utama singkong nasional.
“Pengembangan dilakukan melalui kolaborasi BUMN, swasta, dan mitra strategis. Investasi difokuskan pada on farm berupa penanaman baru dan off farm berupa revitalisasi serta pembangunan pabrik bioetanol,” ujar Iyan mewakili manajemen PTPN Group.
Model pengembangan akan menerapkan pola inti swakelola PTPN serta skema kemitraan bareng pihak swasta dan asosiasi petani. PTPN memegang peran kunci sebagai penyedia lahan, pengelola program, sekaligus penyuplai bahan baku (feedstock) untuk kebutuhan industri bioetanol.
Berdasarkan hasil ground checking bersama Kementerian Pertanian, instansi dinas terkait, serta jajaran PTPN Group, potensi areal seluas ±10 ribu hektare tersebut tersebar di sejumlah unit kebun PTPN. Wilayah operasionalnya mencakup Kabupaten Lampung Selatan, Pesawaran, Lampung Tengah, Lampung Utara, hingga Waykanan.
Sektor hilirisasi program ini diproyeksikan mendukung revitalisasi Pabrik Bioetanol PT Medco Ethanol Lampung (MEL) melalui sinergi bersama Pertamina PNRE. Saat ini, program masih berada pada tahap studi kelayakan (feasibility study), pembuatan demo plot, serta finalisasi skema kerja sama investasi.
Iyan menambahkan, langkah hilirisasi mendesak dilakukan mengingat Indonesia masih mencatatkan impor pati berbasis singkong sebesar USD 162,38 juta pada 2024, di mana 93,59 persen di antaranya berasal dari Thailand. “Kondisi ini menunjukkan pengembangan ke depan tidak hanya di hulu, tetapi harus ke arah hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah dan memperkuat daya saing agroindustri singkong nasional,” jelasnya.
Rektor Universitas Lampung Prof. Lusmeilia Afriani menyambut positif kontribusi nyata PTPN Group. Menurutnya, potensi produksi singkong Lampung yang mencapai jutaan ton per tahun perlu dikelola lewat integrasi hulu-hilir secara terpadu demi mengoptimalkan peluang komoditas ini sebagai bahan baku industri, pakan, pangan, hingga bioenergi.
“Mari bersama kita wujudkan Lampung tidak hanya sebagai sentra produksi, tetapi tumbuh menjadi Pusat Cassava Nasional yang inovatif, kompetitif, dan berkelanjutan,” tutur Lusmeilia.(wa-one/red)



















