Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaBumnPerkebunanPtpn

Transformasi Bisnis Perkebunan, PTPN I Siapkan Rencana Investasi Rp26,76 Triliun

12
×

Transformasi Bisnis Perkebunan, PTPN I Siapkan Rencana Investasi Rp26,76 Triliun

Share this article
Example 468x60

Lampungupdate.com–Industri perkebunan dituntut tidak hanya menghasilkan komoditas mentah, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui pengolahan dan pengembangan produk turunan. Menjawab tantangan tersebut, PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) menyiapkan rencana investasi Rp26,76 triliun untuk memperkuat bisnis dari hulu hingga hilir sekaligus mendukung agenda ketahanan pangan dan energi nasional.

Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras mengatakan, investasi tersebut merupakan bagian dari transformasi perusahaan untuk mengoptimalkan potensi perkebunan, meningkatkan daya saing, dan memperluas kontribusi terhadap perekonomian nasional.

Example 300x600

Menurut Rivai, arah pengembangan bisnis PTPN I memiliki keterkaitan dengan agenda prioritas pemerintah yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, terutama swasembada pangan, ketahanan energi, penciptaan lapangan kerja, pemerataan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Asta Cita Presiden Prabowo memiliki korelasi erat dengan bidang bisnis PTPN I. Sumber daya lahan, komoditas perkebunan, serta jaringan operasional yang tersebar di berbagai wilayah menjadi modal perusahaan untuk mendukung agenda tersebut,” kata Rivai di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Ia menjelaskan, rencana investasi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas perkebunan, tetapi juga membangun kapasitas pengolahan agar komoditas yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Karena itu, pengembangan usaha dirancang melalui integrasi kegiatan budidaya (on-farm) dan pengolahan (off-farm).

Dari total rencana investasi Rp26,76 triliun, sebesar Rp16,34 triliun dialokasikan untuk pengembangan sektor hulu dengan cakupan areal perkebunan seluas 342.321 hektare. Sementara itu, Rp10,42 triliun disiapkan untuk pembangunan 25 fasilitas pengolahan yang direncanakan tersebar di sejumlah wilayah strategis Indonesia.

Pada sektor hulu, pengembangan mencakup peremajaan tanaman dan optimalisasi berbagai komoditas, antara lain jagung, kelapa, karet, kopi, kakao, jambu mete, dan pala. Di sektor hilir, pembangunan fasilitas pengolahan diharapkan memperkuat keterhubungan antara produksi bahan baku, industri pengolahan, dan pasar.

Salah satu peluang yang turut dikaji ialah pemanfaatan jagung sebagai bahan baku bioetanol untuk mendukung pengembangan energi baru terbarukan. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menjajaki peluang nilai tambah komoditas perkebunan dan pertanian, dengan tetap mempertimbangkan kelayakan bisnis serta kebutuhan pasar.

“Hilirisasi bagi PTPN I bukan sekadar pengembangan bisnis baru, melainkan upaya mengubah cara perusahaan menciptakan nilai. Kekuatan perkebunan tidak cukup diukur dari luas lahan atau volume produksi, tetapi juga dari nilai ekonomi yang dihasilkan ketika komoditas diolah menjadi produk turunan,” ujar Rivai.

Pengawalan Investasi dan Kemitraan

Untuk memastikan rencana investasi berjalan terukur, PTPN I menyiapkan pengawalan proyek melalui studi kelayakan bisnis, integrasi rantai pasok, serta penguatan kepastian pasar melalui pembeli siaga (off-taker). Pendekatan ini ditujukan agar pengembangan fasilitas pengolahan sejalan dengan ketersediaan bahan baku dan kebutuhan pasar.

Perusahaan juga mendorong kemitraan dengan petani dan pelaku usaha lokal, termasuk melalui pengembangan skema perkebunan plasma. Keterlibatan mitra diharapkan dapat memperkuat pasokan bahan baku sekaligus memperluas manfaat ekonomi dari pengembangan industri perkebunan.

“Petani merupakan bagian dari garda terdepan dalam menopang ketahanan pangan bangsa. Karena itu, melalui kemitraan dan pengembangan plasma, keberhasilan hilirisasi harus memberikan manfaat nyata bagi petani dan mitra lokal,” kata Rivai.

Hingga awal Oktober 2026, pengembangan areal karet PTPN I tercatat mencapai 1.479 hektare, sedangkan pengembangan jagung mencapai 1.125 hektare. Secara keseluruhan, realisasi pengembangan komoditas unggulan di sektor on-farm diproyeksikan mencapai 11.516 hektare, atau sekitar 59–60 persen dari target tahunan 2026.

Percepatan program dilakukan melalui koordinasi lintas fungsi, pengendalian anggaran, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan melalui pendekatan pentahelix.

Melalui rencana investasi tersebut, PTPN I menargetkan penguatan rantai nilai industri perkebunan, dari budidaya hingga pengolahan produk. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas, memperluas peluang usaha, dan memperkuat peran perusahaan dalam mendukung ketahanan pangan serta energi nasional.(wa-one/red)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *